Recent post
PEMBANGUNAN EKONOMI DI WILAYAH JAWA
TENGAH
Pembangunan
wilayah bertujuan untuk meningkatkan daya saing wilayah, meningkatkan
pertumbuhan ekonomi, mengurangi ketimpangan antarwilayah, serta memajukan
kehidupan masyarakat. Pembangunan wilayah yang strategis dan berkualitas menjadi
harapan setiap daerah di Indonesia.Pembangunan wilayah selain meningkatkan daya
saing wilayah juga mengupayakan keseimbangan pembangunan antardaerah sesuai dengan
potensinya masing-masing.
Perkembangan
indikator utama dalam pembangunan wilayah meliputi pertumbuhan
ekonomi,pengurangan pengangguran, dan pengurangan kemiskinan dapat menggambarkan
capaian kinerja pembangunan wilayah secara umum.Kinerja perekonomian Provinsi
Jawa Tengah selama tahun 2012-2014 berfluktuatif namun kembali meningkat pada
tahun 2014. Rata-rata pertumbuhan ekonomi selama periode tersebut sebesar 5,3
persen lebih rendah dari laju pertumbuhan ekonomi rata-rata nasional sebesar
5,90 persen (Gambar 1). Besarnya PDRB Provinsi Jawa Tengah merupakan terendah ketiga
setelah Yogyakarta dan Banten.
Kinerja
pertumbuhan ekonomi daerah yang diukur dari besarnya PDRB per kapita diJawa
Tengah selama kurun waktu 2010 – 2014 cenderung meningkat, yang menunjukkan
meningkatnya tingkat kesejahteraan di provinsi ini walaupun berada dari
rata-rata nasional pada periode tersebut. Jika pada tahun 2010 rasio antara
PDRB perkapita Jawa Tengah dan PDB nasional sebesar 66,75 persen, maka pada
tahun 2014 rasionya menurun menjadi 65,08 persen (Gambar 2). Hal ini menunjukkan
kinerja rata-rata provinsi lain berkembang lebih pesat dari Jawa Tengah.
Tantangan yang dihadapi pemerintah daerah adalah meningkatkan laju pertumbuhan
ekonomi dan meningkatkan landasan ekonomi daerah yang memperluas kesempatan
kerja dan mempercepat peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat.
Pertumbuhan
Ekonomi dan Pengurangan Kemiskinan
Gambar 5 menunjukkan
persebaran kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Tengah menurut rata-rata
pertumbuhan ekonomi dan pengurangan kemiskinan tahun 2008 sampai dengan tahun
2013, dengan penjelasan sebagai berikut. Pertama, Kabupaten Purbalingga,
Banjarnegara, Tegal, Kendal, dan Pati terletak di kuadran I, merupakan daerah
dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi dan pengurangan kemiskinan di atas rata-rata
provinsi. Hal ini berarti petumbuhan ekonomi yang terjadi di kelima kabupaten
tersebut dapat mendorong pengurangan kemiskinan secara lebih cepat (pro-growth,
pro-poor). Pemerintah sebaiknya mempertahankan pertumbuhan ekonomi serta
tetap meningkatkan upaya pengurangan kemiskinan.
Kedua, Kabupaten Grobogan,
Wonogiti, Rembang, Batang, Cilacap, Klaten, Pekalongan, Blora, Kebumen, Batang,
Wonosobo, dan Brebes terletak di kuadran II, merupakan daerah dengan
pertumbuhan ekonomi di bawah rata-rata provinsi namun pengurangan kemiskinan di
atas rata-rata provinsi Jawa Tengah (low-growth, pro-poor). Tantangan
yang harus dihadapi pemerintah daerah adalah menjaga efektivitas dan efisiensi
kebijakan dan program pengurangan kemiskinan, dan secara bersamaan mendorong
percepatan pembangunan ekonomi dengan prioritas sektor atau kegiatan ekonomi
yang punya potensi berkembang seperti kelautan, perikanan, pertanian, serta
perdagangan dan jasa.
Gambar 5
Dampak Pertumbuhan
Ekonomi terhadap Pengurangan Jumlah Penduduk Miskin
Provinsi Jawa Tengah
Tahun 2008-2013
Ketiga, Kabupaten Boyolali,
Temanggung, Sukoharjo, magelang, Kudus, dan Kota Tegal terletak di kuadran III,
merupakan daerah dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi dan pengurangan
kemiskinan di bawah rata-rata provinsi (low growth, less pro-poor).
Pemerintah daerah harus bekerja keras untuk mendorong percepatan pembangunan
ekonomi melalui peningkatan produktivitas sektor dan kegiatan ekonomi yang
mampu menyerap tenaga kerja besar terutama dari golongan miskin. Pemerintah
daerah juga dituntut untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi berbagai
kebijakan dan program pengurangan kemiskinan.
Keempat, Kabupaten
Purworejo, Pemalang, Semarang, Karanganyar,Banyumas, Sragen, Jepara, Kota
Salatiga, Kota Surakarta, Kota Magelang, Kota Pekalongan, dan Kota Semarang terletak
di kuadran IV, merupakan kota dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi di atas
ratarata, dan pengurangan kemiskinan di bawah rata-rata provinsi (high-growth,
less pro-poor). Pertumbuhan ekonomi yang tinggi
di daerah tersebut belum memberikan dampak penurunan angka kemiskinan secara nyata. Tantangan yang harus
dihadapi oleh pemerintah daerah adalah mendorong
pengembangan kegiatan ekonomi di sektor-sektor yang menyerap banyak tenaga
kerja. Selain itu diperlukan juga program dan
kebijakan dalam hal penanggulangan kemiskinan.
1.2.2. Pertumbuhan Ekonomi dan Peningkatan IPM
Gambar 6
menunjukkan distribusi kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Tengah
berdasarkan rata-rata pertumbuhan
ekonomi dan peningkatan IPM selama tahun 2008-2013.
Pertama,
Kabupaten Karanganyar, Purworejo, Tegal, Pemalang, Kendal, Purbalingga, dan
Sragen terletak di kuadran I, merupakan daerah dengan rata-rata pertumbuhan
ekonomi dan peningkatan IPM di atas rata-rata provinsi. Dalam kondisi ini
tersirat bahwa pertumbuhan ekonomi telah sejalan dengan peningkatan IPM (pro-growth,
pro-human development). Tantangan yang dihadapi pemerintah dalam kinerja
yang baik ini adalah menjaga momentum pertumbuhan dengan tetap meningkatkan
produktivitas dan nilai tambah, sekaligus mempertahankan efektivitas dan
efisiensi pelayanan publik di bidang pendidikan dan kesehatan.
Gambar 6
Dampak
Pertumbuhan Ekonomi terhadap Peningkatan IPM
Provinsi
Jawa Tengah Tahun 2008-2013
Kedua,
Kabupaten Cilacap, Batang, Pekalongan, Brebes, Wonogiri, Blora, Rembang, dan Demak
terletak di kuadran II, termasuk daerah dengan pertumbuhan ekonomi di bawah
rata rata provinsi namun peningkatan IPM di atas rata-rata (low-growth,
pro-human development). Hal ini mengindikasikan bahwa berbagai kebijakan
dan program pembangunan untuk meningkatkan pelayanan publik dapat meningkatkan
IPM. Tantangan yang harus diatasi adalah mendorong percepatan pembangunan
ekonomi melalui peningkatan produktivitas dan nilai tambah sektor dan kegiatan
ekonomi yang menggunakan sumber daya lokal seperti industry manufaktur,
perdagangan dan jasa, pertanian, perikanan, dan kelautan.
Ketiga,
Kabupaten Wonosobo, Grobogan, Magelang, Sukoharjo, Kudus, Klaten,Temanggung,
Kebumen, Boyolali, dan Kota Tegal terletak di kuadran III dengan rata-rata pertumbuhan
ekonomi dan peningkatan IPM di bawah rata-rata provinsi (low growth, less
prohuman development). Kondisi ini menegaskan perlunya pemerintah
daerah membenahi pelayanan publik di bidang pendidikan dan kesehatan. Selain
itu, pemerintah daerah juga harus bekerja keras mendorong seluruh SKPD untuk
memacu pembangunan ekonomi dengan meningkatkan produktivitas dan nilai tambah
sektor dan kegiatan utama daerah.
Keempat,
Kabupaten Jepara, Pati, Banyumas, Banjarnegara, Semarang, Kota pekalongan, Kota
Magelang, Kota Surakarta, Kota Salatiga, Kota Semarang berada di kuadran IV,
termasuk kategori daerah dengan pertumbuhan ekonomi tinggi di atas rata-rata,
tapi peningkatan IPM di bawah rata-rata (high-growth, less-pro human development).
Tantangan bagi pemerintah daerah adalah menjaga keseimbangan antara pembangunan
ekonomi dan peningkatan mutu pelayanan publik terutama di bidang pendidikan dan
kesehatan.
Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah selama 2016 melambat. Badan
Pusat Statistik Jateng mencatat pertumbuhan ekonomi provinsi ini sebesar 5,28%,
lebih rendah dari tahun sebelumnya yang mencapai 5,47%.
"Namun begitu, performa masih bagus mencapai angka 5,28%. Saya melihat tidak banyak provinsi mencapai angka ini. Pertumbuhan ekonomi Jateng masih di atas angka nasional 5,02%," ujar Kepala BPS Jateng, Margo Yuwono, Senin (6/2/2017).
"Namun begitu, performa masih bagus mencapai angka 5,28%. Saya melihat tidak banyak provinsi mencapai angka ini. Pertumbuhan ekonomi Jateng masih di atas angka nasional 5,02%," ujar Kepala BPS Jateng, Margo Yuwono, Senin (6/2/2017).
Menurutnya, perekonomian Jateng tahun 2016 yang diukur
berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai
Rp1.092.030 miliar. Pertumbuhan ekonomi terjadi pada seluruh lapangan usaha. Pertambangan
dan penggalian merupakan lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan tertinggi
sebesar 18,73%. Jasa perusahaan menyusul di peringkat berikutnya sebesar 10,62%
serta jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 9,86%.
Struktur perekonomian Jateng, lanjut dia, menurut lapangan usaha
tahun 2016 didominasi oleh tiga lapangan usaha utama yaitu industri pengolahan
(34,82%), pertanian, kehutanan dan perikanan (15,05%) dan perdagangan
besar-eceran dan reparasi mobil-sepeda motor (13,39%).
"Perekonomian di Jateng tergantung dari industri pengolahan
karena memberikan kontribusi terbesar. Bagaimana pergerakan industri pengolahan
akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan," katanya. Sedangkan,
lanjut dia, dari sisi pengeluaran pertumbuhan ekonomi tahun 2016 sebesar 5,28%
didukung oleh hampir seluruh komponen kecuali komponen pengeluaran pemerintah.
Sektor ini mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 1,71%.
"Kementerian melakukan penghematan anggaran sehingga
berdampak pada perekonomian melambat. Konsumsi belanja pemerintah lebih rendah
namun konsumsi rumah tangga stabil. Artinya, daya beli masyarakat masih
terkendali," katanya.
Sementara itu, Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia
Provinsi Jawa Tengah, Rahmat Dwisaputra menambahkan, keyakinan konsumen
terhadap perekonomian di seluruh kota penyelenggara Survei Konsumen di Jateng
mengalami penurunan. "Berdasarkan survei Indeks Keyakinan Konsumen (IKK)
disebutkan bulan Desember tercatat mencapai 12,51 atau menurun 7,5 poin dari
bulan sebelumnya," terangnya.
Namun secara Abstraksi
beginilah perekonomian pada tahun terakhir ini
- Perekonomian Jawa Tengah tahun 2016 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp 1.092.030,9 miliar, sedangkan harga konstan mencapai Rp 849 383,6 miliar.
- Ekonomi Jawa Tengah tahun 2016 tumbuh 5,28 persen melambat dibanding tahun 2015 (5,47 persen). Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Lapangan Usaha Pertambangan dan Penggalian (18,73 persen). Dari sisi pengeluaran pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (5,96 persen).
https://ekbis.sindonews.com/read/1177467/33/pertumbuhan-ekonomi-jawa-tengah-2016-melambat-1486378908
Kelompok 4
Adelia Nursitasari (20216113)
Muhammad Baharudin Alamsyah (24216750)
Shely Apriliana (26216997)
Pertumbuhan Domestik Bruto Negara China
A. Pertumbuhan Domestik Bruto
Negara China/Republik Tiongkok (RRT)
Sejak
akhir tahun 1970-an, RRT telah mengubah sistem perekonomiannya dari sistem
ekonomi tertutup dan centrally planned menjadi sistem ekonomi yang lebih
berorientasi pada pasar. Dengan mengimplementasikan kebijakan tersebut pada
tahun 2010 RRT berhasil menjadi eksportir terbesar di dunia. Reformasi ekonomi
RRT dimulai secara bertahap yakni keluar dari sistem pertanian kolektif dan
meluaskannya dalam liberalisasi harga, desentralisasi fiskal, meningkatkan
otonomi BUMN, mendiversifikasi sistem perbankan, mengembangkan pasar saham,
meningkatkan pertumbuhan sektor swasta, dan membuka diri terhadap perdagangan,
serta investasi luar negeri.
Pada tahun 2012,
di tengah terjadinya krisis keuangan global, RRT masih mampu mempertahankan
pertumbuhan ekonomi yang stabil dan tetap. Beberapa prestasi yang dicapai oleh
RRT di antaranya adalah kenaikan GDP dari RMB 26,6 triliun (US$ 4,2 triliun)
menjadi RMB 51,9 triliun (US$ 8,3 triliun), yang menempatkan RRT di peringkat
kedua secara global. Di samping itu, pendapatan pemerintah juga naik dari RMB
5,1 triliun (US$ 822 miliar) menjadi RMB 11,7 triliun (US$ 1,88 triliun) dengan
penambahan lapangan kerja sebanyak 58,7 juta.
Di
bidang infrastruktur, selama periode lima tahun, pemerintah telah berhasil
membangun lebih dari 18 juta unit rumah bersubsidi dan perbaikan 12 juta unit
rumah di daerah pinggiran. Di samping itu, juga telah berhasil dibangun 19.700
km jalur kereta api, dimana 8951 kmnya adalah jalur kereta api cepat.
Pemerintah juga telah membangun 609.000 km jalan baru, dengan 42.000 merupakan
jalan tol, yang menambah panjang jalan tol secara keseluruhan menjadi 95.600
km. Lebih lanjut, juga telah dibangun 31 bandara dan 602 pelabuhan untuk 10.000
ton kapal serta pembangunan proyek besar untuk mengalirkan gas dan listrik dari
barat ke timur.
Salah
satu kunci keberhasilan Pemerintah RRT dalam mempertahankan pertumbuhan
ekonominya di tengah krisis global adalah penerapan kebijakan fiskal yang
pro-aktif, kebijakan easy moneter, penerapan kebijakan finansial secara penuh,
peningkatan belanja pemerintah, dan membuat pengurangan pajak secara
struktural. Di samping itu, juga dilakukan penyesuaian giro wajib minimum dan
suku bunga untuk mempertahankan pertumbuhan yang tepat dalam suplai uang dan kredit.
Dalam merespon tren perubahan makro ekonomi, pemerintah juga secara cepat
mengintensifkan implementasi kebijakan, mengurangi daya dorong dari kebijakan
stimulus secara tepat waktu, dan mengimplementasikan kebijakan fiskal pro-aktif
dan kebijakan moneter yang hati-hati.
Dalam
upaya untuk mempercepat penyesuaian struktur ekonomi dan mengembangkan kualitas
serta kinerja pembangunan ekonomi, pemerintah telah melakukan serangkaian upaya
untuk mendorong permintaan domestik. Sebagai hasilnya, kontribusi permintaan
domestik terhadap pertumbuhan ekonomi meningkat.
Di bidang
industri, RRT melakukan berbagai upaya untuk mempromosikan transformasi sektor
industri yang akhirnya menjadikan industri manufaktur RRT terbesar di dunia,
dengan pertumbuhan nilai tambah tahunan rata-rata mencapai 13,4%. Hal ini
sekaligus menjadikan manufaktur teknologi tinggi sebagai pilar utama ekonomi
RRT.
Disamping
itu, pada periode lima tahun ini, industri strategis termasuk clean energy,
konservasi energi, perlindungan lingkungan, teknologi komunikasi dan
bio-medicines telah tumbuh dengan cepat. Kontribusi sektor jasa terhadap GPD
juga meningkat sekitar 2,7%, dan membuat sektor ini mampu menciptakan lapangan
kerja lebih banyak dari sektor lain.
Perdagangan
internasional RRT dalam kurun waktu lima tahun terakhir rata-rata tumbuh
12,2%/tahun dan RRT menempati peringkat kedua negara perdagangan terbesar
dunia. RRT telah menjadi pengekspor terbesar dunia dan kontribusinya terhadap
pasar internasional juga meningkat lebih dari 2 percentage point dibandingkan
tahun 2007. Untuk investasi, selama lima tahun pemerintah telah menggunakan
investasi asing sebanyak US$ 552,8 miliar. Dan untuk mendorong ekspansi
pengusaha RRT keluar negeri, pemerintah menerapkan strategi go global. Outbound
direct investment RRT naik dari US$ 24,8 miliar di tahun 2007 menjadi US$ 77,22
miliar di tahun 2012, dengan pertumbuhan pertahun mencapai 25,5%. Jumlah ini
sekaligus menjadikan RRT sebagai salah satu sumber investasi utama dunia.
Tahun 2013
merupakan tahun yang crucial untuk melanjutkan implementasi Rencana Lima
Tahunan ke-12. Dalam kaitan ini, pemerintah telah menetapkan target pertumbuhan
ekonomi yaitu pertumbuhan GDP sebesar 7,5%, CPI (inflasi) sebesar 3,5%, penambahan
9 juta lapangan kerja, tingkat pengangguran urban di bawah 4,6%, dan terus
mengembangkan balance of payment. Dalam kaitan ini, pemerintah akan meneruskan
kebijakan fiskal yang proaktif, pertama dengan menaikkan defisit dan utang
pemerintah melalui cara yang sesuai. Tahun ini, diproyeksikan defisit sebesar
RMB 1,2 triliun (US$ 200 miliar), RMB 400 triliun (US$ 64,5 miliar) lebih
dibandingkan anggaran tahun lalu. Ini terdiri dari defisit pemerintah pusat
sebesar RMB 850 milyar (US$ 137 miliar), dan RMB 350 miliar (56,4 miliar) dalam
bentuk obligasi yang akan dikeluarkan oleh pemerintah daerah. Kedua, pemerintah
akan memperbaiki kebijakan pemotongan pajak struktural dengan fokus mempercepat
proyek percontohan untuk menggantikan business tax dengan VAT. Ketiga, akan mengoptimalkan
struktur pengeluaran pemerintah dengan prioritas pada belanja pendidikan,
kesehatan, jaminan sosial, dan bidang lain yang penting untuk masyarakat.
Pemerintah akan memperketat pengeluaran administratif dan melakukan
penghematan. Investasi dari pemerintah pusat utamanya akan dialokasikan untuk
proyek rumah bersubsidi, proyek infrastruktur terkait pertanian, jaminan sosial
dan proyek lain untuk pengurangan emisi dan perlindungan lingkungan. Dan
keempat, memperkuat pengelolaan utang pemerintah daerah.
Pemerintah China menurunkan proyeksi target pertumbuhan domestik bruto
tahun 2017 dari 6,7 persen menjadi 6,5 persen. Ada kekhawatiran negeri itu atas
kecenderungan proteksionisme di tingkat global. Tingkat utang terhadap PDB
berusaha dikendalikan. Diturunkannya target pertumbuhan ekonomi negeri itu
realistis. Hal tersebut diharapkan membantu mengontrol sekaligus menguatkan
ekspektasi pertumbuhan ekonomi negeri itu. Reformasi berupa pengendalian
tingkat utang terhadap produk domestik bruto (PDB) dan peningkatan kewaspadaan
atas risiko-risiko krisis keuangan global. ”Aneka perkembangan, baik di dalam
maupun luar China, memerlukan kesiapan kita untuk menghadapi situasi-situasi
yang lebih kompleks sekaligus genting,” saat menyampaikan laporan kerjanya
dalam pembukaan pertemuan tahunan parlemen di Beijing. China menargetkan
pertumbuhan 6,5-7 persen tahun lalu. Realisasinya 6,7 persen dengan dukungan
kredit perbankan, kenaikan harga rumah, dan investasi pemerintah. Namun,
seiring dengan upaya pemerintah memperlambat pasar perumahan, pertumbuhan
kredit, sekaligus memperketat tingkat utang, perekonomian pun melambat.
Konsumsi domestik
China berketetapan untuk
mendorong pertumbuhan lewat konsumsi domestik dan investasi swasta. Seperti
halnya tahun lalu, negeri itu tidak membuka angka targetnya untuk ekspor dengan
alasan ketidak pastian kondisi perekonomian global. Pemerintah secara khusus
menekankan perlunya mewaspadai risiko tingkat utang terhadap PDB negeri itu.
Ini seiring dengan analisis para ekonom global yang menyatakan hal tersebut
berisiko terhadap perekonomian China. Tren proteksionisme dan deglobalisasi
meningkat, menimbulkan ketidakpastian arah negara-negara besar dan efek atas
pilihan itu bagi negara lain di sekitarnya ataupun secara global. Kondisi itu
juga dinyatakannya menjadi faktor yang bisa menyebabkan ketidakstabilan
perekonomian. Meski tidak langsung menyebutkan Amerika Serikat, publik
menangkap AS yang menjadi pusat perhatian China. Di tengah sikap AS yang
cenderung lebih protektif, China bergeming untuk mempertahankan perdagangan
bebasnya. Ekonom Universitas Renmin di Beijing, Son Lifang, melihat efek dari
kencenderungan ketertutupan AS relatif terbatas bagi China. Transformasi
perekonomian China dengan dorongan konsumsi dalam negeri dinilainya berpotensi
mendukung pertumbuhan negeri itu. Pertumbuhan PDB 6,5 persen diperkirakan bisa
menjaga tingkat ketersediaan lapangan kerja.
Kenaikan Fed Rate
Pasar
keuangan global bisa terpengaruh dengan rencana kenaikan suku bunga acuan AS,
Fed Fund Rate. Kemunggkinan kenaikan Fed Rate dilakukan Maret tahun ini, lebih
cepat daripada yang ditargetkan sebelumnya. Keputusan itu akan diambil jika
angka pengangguran dan inflasi AS sesuai dengan ekspektasi The Fed. Kenaikan
Fed Rate terakhir dilakukan akhir tahun lalu. Kala itu, Fed Rate naik 0,25
persen, kenaikan kedua dalam 10 tahun terakhir.
B. KEMISKINAN
Pertumbuhan ekonomi, dihitung berdasarkan pendekatan nilai riil produk domestic bruto (gross domestic bruto), bukan semata-mata menunjukkan peningkatan produk atau pendapatan secara makro. Pertumbuhan ekonomi telah menaikkan pendapatan perkapita masyarakat. Tolak ukur lain mengenai kesejahteraan (sekaligus kemiskinan) penduduk sebuah negara, yang bukan ditinjau berdasarkan aspek pendapatan, sangatlah bervariasi. Ada yang berpendekatan ekonomi, ada juga yang berpendekatan social. Tingkat kesejahteraan penduduk dapat pula dilihat melalui alokasi pengeluaran konsumsinya. Semakin sejahtera penduduk suatu negeri, maka semakin kecil pengeluaran konsumsinya untuk pembelian bahan pangan. Upaya China menggenjot pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir berdampak pada peningkatan taraf hidup warganya. Alhasil, angka kemiskinan di negara ekonomi terbesar kedua di dunia turun signifikan.
B. KEMISKINAN
Pertumbuhan ekonomi, dihitung berdasarkan pendekatan nilai riil produk domestic bruto (gross domestic bruto), bukan semata-mata menunjukkan peningkatan produk atau pendapatan secara makro. Pertumbuhan ekonomi telah menaikkan pendapatan perkapita masyarakat. Tolak ukur lain mengenai kesejahteraan (sekaligus kemiskinan) penduduk sebuah negara, yang bukan ditinjau berdasarkan aspek pendapatan, sangatlah bervariasi. Ada yang berpendekatan ekonomi, ada juga yang berpendekatan social. Tingkat kesejahteraan penduduk dapat pula dilihat melalui alokasi pengeluaran konsumsinya. Semakin sejahtera penduduk suatu negeri, maka semakin kecil pengeluaran konsumsinya untuk pembelian bahan pangan. Upaya China menggenjot pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir berdampak pada peningkatan taraf hidup warganya. Alhasil, angka kemiskinan di negara ekonomi terbesar kedua di dunia turun signifikan.
“Jumlah penduduk yang
berada dalam kemiskinan di China hampir tiga per empat dari tingkat kemiskinan
selama enam tahun, yakni dari 26 persen pada tahun 2007 menjadi tujuh persen
pada 2012,” menurut laporan dari perusahaan riset Gallup yang berbasis di Amerika
Serikat (AS), seperti dikutip dari laman CNN, beberapa waktu lalu. Selain
berhasil mengurangi jumlah masayarakat kelas bawah, Negeri Tirai Bambu juga
berhasil mendorong 65 persen penduduknya untuk naik kelas ke kelompok menengah
dan menengah atas. Sejak memulai pembangunan ekonomi pada 1980, China berhasil
menekan angka kemiskinan secara drastis yang saat itu berada pada level 64
persen. Tren tersebut juga dikaitkan dengan reformasi ekonomi dalam negeri yang
diterapkan selama beberapa dekade terakhir. Salah satu aspek khusus dari
keberhasilan sosio-ekonomi tersebut, lantaran adanya pertumbuhan
industrialisasi yang pesat di ibu kota. Hal ini mendorong warga perdesaan untuk
urbanisasi dan menilai pekerjaan di pusat perkotaan jauh lebih baik, khususnya pada
sektor manufaktur.
“Peningkatan pendidikan dan kesehatan telah memainkan peranan pentig dalam membantu kebanyakan warga China untuk keluar dari kemiskinan,” demikian penilaian Gallup. Jumlah penduduk China pada pertengahan 2014 diperkirakan mencapai 1,355,692,576 (July 2014 est.) atau sekitar 20% dari penduduk dunia, belum termasuk Hong Kong, Makau, dan Taiwan. Tantangan demografi yang dihadapi China saat ini, antara lain populasi yang menua, dan tingginya tingkat cacat lahir di wilayah tertentu. Ketidakseimbangan rasio gender pada dasarnya tidak terlalu tajam, yakni laki-laki: 51,3%, perempuan: 48,7%, namun isu yang berkembang adalah sulitnya kaum laki-laki mencari pasangan hidup akibat paradigma sosial yang mengakibatkan kaum perempuan Tiongkok lebih memilih pasangan hidup yang berada ataupun expatriat. Pertumbuhan penduduk di China diperkirakan akan terus meningkat tajam mulai dari tahun 2016 sampai tahun 2040.
Sebanyak 128 juta penduduk atau 13.4 persen dari total penduduk Tiongkok hidup di bawah garis kemiskinan, karena China menaikkan standar garis kemiskinan menjadi 1.500 yuan atau US$ 230 per tahun (setengah dari standar garis kemiskinan yang ditetapkan Bank Dunia). Untuk itu, Pemerintah china telah menyusun rencana program pengentasan kemiskinan 10 tahun (2011–2020). Sementara itu pada pertengahan 2012, tingkat pengangguran di RRT mencapai 4,1% dari total penduduk China. Untuk mengatasi masalah ketenagakerjaan, pemerintah Tiongkok telah menciptakan 10,24 juta lapangan pekerjaan baru pada akhir bulan September 2012. Selain itu sebagai upaya memperluas penyediaan keamanan sosial bagi penduduknya, pemerintah Tiongkok telah memberikan jaminan social security untuk 90 persen penduduknya, serta memberikan rural pension scheme untuk 330 juta petani yang berumur 60 tahun lebih dengan tunjangan bulanan yang bervariasi sesuai tingkat standar penghasilan daerah mereka.
C. Tabel dan Grafik PDB di China
“Peningkatan pendidikan dan kesehatan telah memainkan peranan pentig dalam membantu kebanyakan warga China untuk keluar dari kemiskinan,” demikian penilaian Gallup. Jumlah penduduk China pada pertengahan 2014 diperkirakan mencapai 1,355,692,576 (July 2014 est.) atau sekitar 20% dari penduduk dunia, belum termasuk Hong Kong, Makau, dan Taiwan. Tantangan demografi yang dihadapi China saat ini, antara lain populasi yang menua, dan tingginya tingkat cacat lahir di wilayah tertentu. Ketidakseimbangan rasio gender pada dasarnya tidak terlalu tajam, yakni laki-laki: 51,3%, perempuan: 48,7%, namun isu yang berkembang adalah sulitnya kaum laki-laki mencari pasangan hidup akibat paradigma sosial yang mengakibatkan kaum perempuan Tiongkok lebih memilih pasangan hidup yang berada ataupun expatriat. Pertumbuhan penduduk di China diperkirakan akan terus meningkat tajam mulai dari tahun 2016 sampai tahun 2040.
Sebanyak 128 juta penduduk atau 13.4 persen dari total penduduk Tiongkok hidup di bawah garis kemiskinan, karena China menaikkan standar garis kemiskinan menjadi 1.500 yuan atau US$ 230 per tahun (setengah dari standar garis kemiskinan yang ditetapkan Bank Dunia). Untuk itu, Pemerintah china telah menyusun rencana program pengentasan kemiskinan 10 tahun (2011–2020). Sementara itu pada pertengahan 2012, tingkat pengangguran di RRT mencapai 4,1% dari total penduduk China. Untuk mengatasi masalah ketenagakerjaan, pemerintah Tiongkok telah menciptakan 10,24 juta lapangan pekerjaan baru pada akhir bulan September 2012. Selain itu sebagai upaya memperluas penyediaan keamanan sosial bagi penduduknya, pemerintah Tiongkok telah memberikan jaminan social security untuk 90 persen penduduknya, serta memberikan rural pension scheme untuk 330 juta petani yang berumur 60 tahun lebih dengan tunjangan bulanan yang bervariasi sesuai tingkat standar penghasilan daerah mereka.
C. Tabel dan Grafik PDB di China
Referensi :
Kelompok 4
Adelia Nursitasari (20216113)
Muhammad Baharudin Alamsyah
(24216750)
Shely Apriliana (26216997)
Kemiskinan dan Kesenjangan Sosial di Indonesia
Kemiskinan merupakan masalah sosial yang senantiasa hadir
ditengah masyarakat. Kemiskinan sebagai fenomena sosial yang telah lama ada,
berkembang sejalan dengan peradaban manusia. Masyarakat miskin pada umumnya
lemah dalam kemampuan berusaha dan terbatas aksesnya kepada kegiatan ekonomi
sehingga seringkali makin tertinggal jauh dari masyarakat lain yang memiliki
potensi tinggi. Substansi kemiskinan adalah kondisi deprevasi tehadap sumber-sumber
pemenuhan kebutuhan dasar yang berupa sandang, pangan, papan, dan pendidikan
dasar (Sudibyo, 1995:11).
Kemiskinan juga sering disandingkan dengan kesenjangan,
karena masalah kesenjangan mempunyai kaitan erat dengan masalah kemiskinan.
Substansi kesenjangan adalah ketidakmerataan akses terhadap sumber daya
ekonomi. Sudibyo (1995:11) mengatakan bahwa “apabila berbicara mengenai
kemiskinan maka kemiskinan dinilai secara mutlak, sedangkan penilaian terhadap
kesenjangan digunakan secara relatif”. Dalam suatu masyarakat mungkin tidak ada
yang miskin, tapi kesenjangan masih dapat terjadi di dalam masyarakat tersebut.
Sebagian besar dari penduduk miskin ini tinggal diperdesaan
dengan mata pencaharian pokok dibidang-bidang pertanian dan kegiatan-kegiatan
lainnya yang erat hubungannya dengan sektor ekonomi tradisional tersebut.
Kehidupan mereka bergantung pada pola pertanian yang subsistem, baik petani
kecil atau pun buruh tani yang berpenghasilan rendah, ataupun bekerja dalam
sektor jasa kecil-kecilan dan berpenghasilan pas-pasan. Fenomena banyaknya
urbanisasi penduduk desa ke kota menunjukkan bahwa adanya ketidakmerataan
pembangunan di perdesaan. Terbatasnya fasilitas umum, kecilnya pendapatan, dan
terbatasnya pekerjaan dan dalih mencari kehidupan lebih baik menjadi alasan
urbanisasi ini. Permasalahan tersebut menyiratkan adanya ketidakmerataan dan
kesenjangan antara perdesaan dan perkotaan.
Pada Maret 2016, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan
pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia
mencapai 28,01 juta orang (10,86 persen), berkurang sebesar 0,50 juta orang
dibandingkan dengan kondisi September 2015 yang sebesar 28,51 juta orang (11,13
persen).Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada September 2015
sebesar 8,22 persen, turun menjadi 7,79 persen pada Maret 2016. Sementara
persentase penduduk miskin di daerah perdesaan naik dari 14,09 persen pada
September 2015 menjadi 14,11 persen pada Maret 2016.Selama periode September
2015–Maret 2016, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan turun sebanyak 0,28
juta orang (dari 10,62 juta orang pada September 2015 menjadi 10,34 juta orang
pada Maret 2016), sementara di daerah perdesaan turun sebanyak 0,22 juta orang
(dari 17,89 juta orang pada September 2015 menjadi 17,67 juta orang pada Maret
2016).
Peranan komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh
lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang,
pendidikan, dan kesehatan). Sumbangan Garis Kemiskinan Makanan terhadap Garis
Kemiskinan pada Maret 2016 tercatat sebesar 73,50 persen, kondisi ini tidak
jauh berbeda dengan kondisi September 2015 yaitu sebesar 73,07 persen.Jenis
komoditi makanan yang berpengaruh terbesar terhadap nilai Garis Kemiskinan di
perkotaan maupun di perdesaan, di antaranya adalah beras, rokok kretek filter,
telur ayam ras, gula pasir, mie instan, bawang merah dan roti. Sedangkan untuk
komoditi bukan makanan yang terbesar pengaruhnya adalah biaya perumahan,
listrik, bensin, pendidikan, dan perlengkapan mandi.
DAMPAK KEMISKINAN
Pengangguran merupakan dampak dari kemiskinan,
berhubung pendidikan dan keterampilan merupakan hal yang sulit diraih
masyarakat, maka masyarakat sulit untuk berkembang dan mencari pekerjaan
yang layak untuk memenuhi kebutuhan. Dikarenakan sulit untuk bekerja, maka
tidak adanya pendapatan membuat pemenuhan kebutuhan sulit, kekurangan nutrisi
dan kesehatan, dan tak dapat memenuhi kebutuhan penting lainnya. Misalnya saja
harga beras yang semakin meningkat, orang yang pengangguran sulit untuk membeli
beras, maka mereka makan seadanya. Seorang pengangguran yang tak dapat
memberikan makan kepada anaknya akan menjadi dampak yang buruk bagi masa depan
sehingga akan mendapat kesulitan untuk waktu yang lama.
Kriminalitas merupakan dampak lain dari
kemiskinan. Kesulitan mencari nafkah mengakibatkan orang lupa diri sehingga
mencari jalan cepat tanpa memedulikan halal atau haramnya uang sebagai alat
tukar guna memenuhi kebutuhan. Misalnya saja perampokan, penodongan, pencurian,
penipuan, pembegalan, penjambretan dan masih banyak lagi contoh kriminalitas
yang bersumber dari kemiskinan. Mereka melakukan itu semua karena kondisi yang
sulit mencari penghasilan untuk keberlangsungan hidup dan lupa akan nilai-nilai
yang berhubungan dengan Tuhan. Di era global dan materialisme seperti sekarang
ini tak heran jika kriminalitas terjadi dimanapun.
Putusnya sekolah dan kesempatan pendidikan
sudah pasti merupakan dampak kemiskinan. Mahalnya biaya pendidikan menyebabkan
rakyat miskin putus sekolah karena tak lagi mampu membiayai sekolah. Putus
sekolah dan hilangnya kesempatan pendidikan akan menjadi penghambat rakyat
miskin dalam menambah keterampilan, menjangkau cita-cita dan mimpi mereka. Ini
menyebabkan kemiskinan yang dalam karena hilangnya kesempatan untuk bersaing
dengan global dan hilangnya kesempatan mendapatkan pekerjaan yang layak.
Kesehatan sulit untuk didapatkan karena
kurangnya pemenuhan gizi sehari-hari akibat kemiskinan membuat rakyat miskin
sulit menjaga kesehatannya. Belum lagi biaya pengobatan yang mahal di klinik
atau rumah sakit yang tidak dapat dijangkau masyarakat miskin. Ini menyebabkan
gizi buruk atau banyaknya penyakit yang menyebar.
Buruknya generasi penerus adalah dampak yang
berbahaya akibat kemiskinan. Jika anak-anak putus sekolah dan bekerja karena
terpaksa, maka akan ada gangguan pada anak-anak itu sendiri seperti gangguan
pada perkembangan mental, fisik dan cara berfikir mereka. Contohnya adalah
anak-anak jalanan yang tak mempunyai tempat tinggal, tidur dijalan, tidak
sekolah, mengamen untuk mencari makan dan lain sebagainya. Dampak kemiskinan
pada generasi penerus merupakan dampak yang panjang dan buruk karena anak-anak
seharusnya mendapatkan hak mereka untuk bahagia, mendapat pendidikan, mendapat
nutrisi baik dan lain sebagainya. Ini dapat menyebabkan mereka terjebak dalam
kesulitan hingga dewasa dan berdampak pada generasi penerusnya.
Di suatu Negara sebesar Indonesia yang memiliki kekayaan alam
yang cukup banyak, sumber daya manusia yang besar dengan wilayah yang
sedemikian luas tentunya suatu keunggulan. Dibandingkan Negara kecil yang luas
wilayahnya terbatas, tidak memiliki kekayaan alam seberapa. Dalam teori
manajemen tentu kita masuk kategori unggul sumber daya alam banyak, sumber daya
manusia banyak, teknologi mendukung. Namun kenyataan ini menjadi berbeda ketika
kita melihat Negara Indonesia justru banyak angka kemiskinannya dimana di jalan
masih dapat kita lihat rakyat masih tinggal di pemukiman kumuh, kesulitan
mendapat pekerjaan, tidak dapat melanjutkan sekolah, kekurangan gizi. Disatu
sisi ada sekelompok masyarakat yang hidupnya mewah dengan rumah besar, mobil
mewah, pendidikan tinggi.
Semakin hari semakin tampak kesenjangan sosial itu. Padahal
peranan Negara sangat penting dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat disini.
Kita bisa berbicara ini stratifikasi sosial bahwa ada tingkatan ekonomi
masyarakat yang tidak semua sama. Dalam kehidupan ada yang namanya si kaya dan
si miskin. Tampaknya kesenjangan antara si kaya dan si miskin makin hari
menjadi-jadi. Hal ini justru menimbulkan kerawanan sosial dimana tingkat
kejahatan semakin meningkat, kemiskinan, pendidikan rendah, kekurangan gizi,
penyakitan dan sebagainya.. Tujuan suatu Negara adalah mewujudkan masyarakat
yang makmur dan sejahtera. Bukan saja memakmurkan satu golongan tetapi
memberikan kemakmuran pada semua masyarakatnya. Akan tampak aneh kalau kelompok
kaya dengan mobil ratusan juta rupiah berseliweran di jalan dan pengemis yang
kelaparan di jalan. Kalau kita sadar akan kondisi ini mestinya kita berpikir
ada yang keliru dengan Negara ini. Negara berperan penting dalam mewujudkan
fasilitas yang layak sesuai standar di Negara tersebut. Kebutuhan primer
seperti makanan pokok, pakaian, perumahan, pendidikan, kesehatan harus
diberikan dengan baik. Pembangunan fasilitas umum seperti jalan, listrik,
sekolah, rumah sakit. Tugas Negara dalam mengatur pajak masyarakat yang besar
itu untuk menciptakan masyarakat yang makmur sehingga kesenjangan sosial
menjadi rendah dan kemiskinan dapat segera teratasi. Kenyataan yang terjadi
saat ini adalah pembangunan yang berlandaskan pada kepentingan pemilik modal.
Satu contoh pembangunan supermarket besar yang dimiliki
perusahaan tanpa memikirkan pasar tradisional yang menghidupi masyarakat bawah.
Bahkan belakangan merambah mini market yang mematikan warung kecil. Kondisi
seperti ini adalah contoh ketidak seimbangan yang terjadi yang menyebabkan
kesenjangan sosial dan kemiskinan. Di era perdagangan bebas bangsa ini bisa
jadi termasuk warung kecil itu. Karena Negara maju sudah memiliki berbagai
produk yang berkualitas dan siap dipasarkan sedangkan kita masih menjadi bangsa
konsumtif. Begitu perdagangan bebas di buka maka bangsa ini juga akan siap
menjadi bangsa miskin. Produk yang bisa kita jual ke Negara lain tidak banyak
sedangkan kita lebih banyak membeli dari Negara lain. Ketidak seimbangan ekspor
dan impor ibarat hanya akan menambah hutang selanjutnya dapat dipastikan
menjadi gulung tikar.
KEBIJAKAN ANTI KEMISKINAN
Kebijakan anti kemiskinan dan distribusi
pendapatan mulai muncul sebagai salah satu kebijakan yang sangat penting dari
lembaga-lembaga dunia, seperti Bank Dunia, ADB,ILO, UNDP, dan lain sebagainya.
Tahun 1990, Bank Dunia lewat laporannya World Developent Report
on Proverty mendeklarasikan bahwa suatu peperangan yang berhasil melawan
kemiskinan perlu dilakukan secara serentak pada tiga front :
(i)
Pertumbuhan ekonomi yang luas dan padat karya yang
menciptakan kesempatan kerja danpendapatan bagi kelompok miskin,
(ii)
Pengembangan SDM (pendidikan,
kesehatan, dan gizi), yang memberi mereka kemampuan yang lebih baik untuk
memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang diciptakan oleh pertumbuhan ekonomi,
(iii)
Membuat suatu jaringan pengaman sosial untuk mereka yang
diantara penduduk miskin yang sama sekali tidak mamu untuk mendapatkan
keuntungan-keuntungan dari pertumbuhan ekonomi dan perkembangan SDM akibat
ketidakmampuan fisik dan mental, bencana alam, konflik sosial, dan terisolasi
secara fisik.
Untuk mendukung strategi yang tepat dalam memerangi kemiskinan
diperlukan intervensi-intervensi pemerintah yang sesuai dengan sasaran atau
tujuan perantaranya dapat dibagi menurut waktu, yaitu :
1. Intervensi jangka pendek,
berupa :
- Pembangunan/penguatan sektor usaha
Kerjsama regional
- Manajemen pengeluaran pemerintah
(APBN) dan administrasi
- Desentralisasi
- Pendidikan dan kesehatan
- Penyediaan air bersih dan pembangunan
perkotaan
- Pembagian tanah pertanian yang merat
2. Pembangunan sektor pertanian,
usaha kecil, dan ekonomi pedesaan
3. Manajemen lingkungan dan SDA
4. Pembangunan transportasi,
komunikasi, energi dan keuangan
5. Peningkatan keikutsertaan masyarakat
sepenuhnya dalam pembangunan
6. Peningkatan proteksi sosial
(termasuk pembangunan sistem jaminan sosial)
KESIMPULAN
Jadi kesenjangan sosial tidak semata-mata karena
faktor internal dan kebudayaan, tetapi lebih disebabkan oleh adanya hambatan
struktural yang membatasi serta tidak memberikan peluang untuk memanfaatkan
kesempatan-kesempatan yang tersedia. Kendati faktor internal dan kebudayaan
(kebudayaan kemiskinan) mempunyai andil sebagai penyebab kesenjangan sosial,
tetapi tidak sepenuhnya menentukan.
Di
Indonesia, kemiskinan merupakan salah satu masalah besar. banyak studi empiris
yang memang membuktikan adanya suatu relasi trade off yang kuat antara laju
pertumbuhan pendapatan dan tingkat
kemiskinan, hubungan negatif tersebut tidak sistematis. Namun, dari beberapa
studi empiris yang pernah dilakukan, pendekatan yang digunakan berbeda-beda dan
batas kemiskinan yang dipakai beragam pula, sehingga hasil atau gambaran
mengenai hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan distribusi pendapatan juga
berbeda.
Sumber:
http://www.kompasiana.com/sanggedepurnama/kesenjangan-sosial-dan-kemiskinan_55282ec06ea834c3538b4604
Kelompok 4:
Adelia Nursitasari (20216113)
Muhammad Baharudin Alamsyah (24216750)
Shely Apriliana (26216997)
Kasus PT.Freeport Indonesia
PT Freeport Indonesia adalah sebuah
perusahaan pertambanganyang mayoritas sahamnya dimiliki oleh Freeport McMoRan
Copper andGold Inc. (AS). Perusahaan ini merupakan perusahaan penghasil emas
terbesar di dunia melalui kegiatan penambangannya di Grasberg, Papua.PT Freeport
Indonesia telah melakukan eksplorasi di dua tempat di Papua,masing-masing
adalah di Erstberg (sejak 1967) dan Grasberg (sejak1988), di kawasan Tembaga
Pura, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua.
PT Freeport berkembang menjadi
perusahaan dengan penghasilan2,3 miliar dolar AS. Menurut Freeport, keberadaan
perusahaan tersebut di Indonesia telah memberikan manfaat langsung dan tidak
langsung kepadaIndonesia sebesar 33 miliar dolar dari tahun 1992-2004, dengan
hargaemas mencapai nilai tertinggi dalam 25 tahun terakhir, yaitu 540 dolar per
ons.
Hingga kini, operasi penambangan PT
Freeport masih berlangsungdi kawasan Grasberg, Papua. Penambangan Freeport di
Grasberg menghasilkan 5 macam barang tambang, yaitu tembaga, emas,
silver,molybdenum, dan Rhenium. Emas merupakan penghasilan utamaFreeport karena
memang jenis tambang inilah yang konsentrasinya paling besar di lokasi tambang
Grasberg.
Bumi Papua adalah surga dunia, dengan
potensi sumber daya alam yang melimpah. Sungguh memperiatikan, sumber daya alam
yang melimpah itu ternyata belum dinikmati seutuhnya oleh segenap warga Papua.
Lebih dari 2,6 juta hektare lahan sudah dieksploitasi, termasuk 119.435 hektare
kawasan hutan lindung dan 1,7 juta hektare kawasan hutan konservasi. Hak tanah
masyarakat adat pun ikut digusur. Dari hasil eksploitasi itu, setiap hari,
rata-rata perusahaan raksasa dan penyumbang terbesar industri emas di AS itu
mampu meraih keuntungan Rp 114 miliar per hari. Jika keuntungan tersebut
dikalikan 30 hari, keuntungan PT Freeport mencapai USD 589 juta atau sekitar Rp
3,534 triliun per bulan. Dalam setahun, keuntungan PT Freeport mencapai Rp80
triliun per tahun.
PT Freeport dalam melakukan kegiatan
penambangan diIndonesia terikat oleh kontrak karya pertambangan. Kontrak karya
adalah suatu perjanjian pengusahaan pertambangan antarapemerintah Republik
Indonesia dengan perusahaan swasta asingatau bisa dalam bentuk patungan
perusahaan asing denganIndonesia dan perusahaan swasta nasional untuk
melaksanakanusaha pertambangan di luar minyak dan gas bumi. Pada awal mula
berpijaknya PT Freeport di Indonesia, kontrak karya diatur denganUU No 11 Tahun
1967 tentang Pertambangan dimana sebelumnyadimulai oleh UU No 1 Tahun 1967
tentang Penanaman Modal Asing yang menjadi pintu masuk inverstor asing untuk
menanamkan modalnya dalam bisnis pertambangan.
Di dalam kontrak karya ini, terjadi
ketidakadilan yang luarbiasa. Pihak Indonesia hanya berhak mendapatkan royalty
1% dariemas yang didapatkan oleh Freeport di Papua. Namun semenjak tahun 2003,
pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah nomor 45 tahun 2003 yang mengatur
royalty emas bagi bangsa Indonesiasebesar 3,75%. Sangat ironis memang, negara
yang memilikikekayaan tambang emas terbesar di dunia, hanya memperoleh3,75%
dari emas yang dimilikinya itu. Fakta yang lebih menyakitkan lagi, kontrak
karya yang sedang berlaku saat ini antara PT Freeportdengan pemerintah
Indonesia baru berakhir pada tahun 2021, danpada saat itu juga kandungan emas
yang ada di bumi Papuadiperkirakan sudah habis.Eksploitasi yang dilakukan Freeport
ini sangatlah bertolak belakang dengan Pasal 33 UUD 1945. Bunyi pasal 33 UUD
1945 sebagai berikut :
1. Perekonomian
disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan.
2. Cabang-cabang
produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak
dikuasai oleh Negara.
3. Bumi,
air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan
dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
4. Perekonomian
nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip
kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan,
kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi
nasional.
5. Ketentuan
lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang.
PT Freeport ini sudah sejak lama
bekerjasama dengan Negara Indonesia sejak tahun 1967 lalu kontraknya habis. Dan
pada periode pemerintahan Soeharto saat Indonesia sedang krisis ekonomi dan PT
Freeport melihat peluang tersebut maka PT Freeport mengajukan kontrak kerjasama
pertambangan kembali PT Freeport dengan Indonesia dan kerjasama itu berlangsung
sampai sekarang. Tapi semakin kesini PT Freeport ini merugikan Indonesia dari
aspek pengeksplorannya, aspek lingkungannya, dan lain-lain. Saat ini PT
Freeport sedang mencoba membujuk Indonesia untuk memperpanjang kontraknya yang
habis pada tahun 2021 nanti. Dan ini
memicu perdebatan antara berbagai pihak karena soal perpanjangan kontrak ini
membuat beberapa kasus yang diduga merembet kepada kasus korupsi. Dan saat ini
MKD sedang menyelidiki kebenaran hal tersebut.
Penyelesaian Konflik Harus Dengarkan Apresiasi Masyarakat
Penyelesaian
konflik antara masyarakat adat dengan PT Freeport Indonesia harus dilakukan
secara adil dan bijaksana dengan mendegarkan aspirasi dan tuntutan masyarakat
di daerah itu. Pelaksana Tugas Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo)
Provinsi Papua, Matias Sarwa, kepada ANTARA di Jayapura, Rabu mengakui,
pemalangan terhadap aktifitas PT Freeport itu masalah "perut", karena
masyarakat adat selama ini tidak diperhatikan secara baik. Menurut Matias, PT
Freeport harus mengakui tindakan yang dilakukan masyarakat adat di Tembagapura,
Timika, karena selama ini mereka merasa kurang mendapat perhatian dalam hal
kesejahteraan dari pihak perusahaan. Keberadaan PT Freeport di Papua bagaikan
seekor sapi, dan tambang yang dikeruk itu seperti susu, namun setelah mendapat
susu yang banyak lalu lupa kepada pemiliknya. Hal itu yang kini terjadi,
sehingga kta Matias, semua pihak yang berkompoten baik Pemerintah Pusat,
Pemerintah Provinsi Papua melalui Gubernur, DPR Papua, MRP serta PT Freeport
sendiri, menyelesaikan masalah pemalangan itu dengan kepala yang dingin.
Matias juga mengakui, masalah
kecemburuan sosial antara masyarakat asli dan non asli yang bekerja di PT
Freeport itu tidak sebanding, karena mulai dari tukang sapu hingga direktur
berdasi semuanya orang non Papua sehingga selalu menimbulkan masalah. Kondisi
itu tidak pernah disadari dan diperhatikan secara baik oleh Pemerintah Pusat,
Pemprov Papua maupun pihak perusahan, akibatnya masalah yang timbul tidak dapat
diredam, karena jumlah tenaga kerja orang Papua sangat sedikit bila
dibandingkan dengan non Papua. Keberpihakan terhadap orang asli Papua,
khususnya tujuh suku pemilik hak adat itu, tidak nampak terutama masalah
kesejahteraan mereka tidak diperhatikan secara baik.
Oleh karena itu tuntutan masyarakat
tentang berapa persen yang akan diberikan pihak perusahan harus didengar dan
digubris, sehingga tidak menimbulkan masalah yang berkepanjangan, karena
dampaknya sangat besar, apabila PT Freeport ditutup. Matias meminta kepada
manajemen perusahan agar selalu membuka diri, untuk memberitahukan berapa besar
tambang tembaga, emas, dan perak yang sudah dikeruk yang dibawah keluar negeri,
bahkan ke depan masyarakat pemilik hak adat juga harus dilibatkan dalam
mengawasi aktifitas perusahan. Komitmen perusahan dari awal melalui kontrak
kerja harus dipegang, sehingga tidak melakukan penambangan di luar kontrak
kerja tersebut, agar tidak menimbulkan masalah. Karyawan yang bekerja juga
harus memprioritaskan tenaga asli Papua, sehingga tidak menimbulkan kecemburuan
sosial seperti yang selama ini terjadi. Banyak sekali hasil tambang tembaga,
emas, perak, nikel yang sudah dibawah keluar Papua, namun hasilnya tidak
dinikmati secara baik oleh rakyat Papua terutama masyarakat pemilik hak ulayat
tujuh suku yang ada di Timika.
Tambang Freeport adalah bukti
kesalahan pengurusan pada sektor pertambangan di Indonesia dan bukti tunduknya
hukum dan wewenang negara terhadap korporasi. Pemerintah menganggap emas hanya
sebatas komoditas devisa yang kebetulan berada di tanah Papua. Telah sekian
lama pemerintah menutup mata terhadap daya rusak industri pertambangan di tanah
Papua. Sudah sepatutnya bangsa Indonesia mendapatkan apa yang menjadi haknya
yakni mengelola SDAnya sendiri tanpa dikuasai penuh oleh pihak asing.
Ada beberapa solusi dapat dilakukan
oleh pemerintah antara lain, melakukan evaluasi terhadap seluruh aspek
pertambangan Freeport terutama aspek pengelolaan sumberdaya alam dan
lingkungan, melakukan perubahan Kontrak Karya Freeport yang lebih menguntungkan
bagi negara pada umumnya dan bagi rakyat Papua pada khususnya, memfasilitasi
sebuah konsultasi penuh dengan penduduk asli Papua terutama yang berada di
wilayah operasi Freeport dan pihak berkepentingan lainnya mengenai masa depan
pertambangan tersebut serta memetakan dan mengkaji sejamlah skenario bagi masa
depan Freeport, termasuk kemungkinan penutupan, kapasitas produksi dan
pengolahan limbah.
Selain itu, konsep pembangunan
berkelanjutan harus dikedepankan oleh pemerintah dengan memelihara kelestarian
lingkungan. Pemerintah harus menghentikan secara sepihak kegiatan korporasi
asing yang dapat merusak lingkungan selama melakukan penambangan sumberdaya
alam Indonesia. Perusakan lingkungan yang dilakukan oleh asing merupakan utang
lingkungan. Seluruh pajak, royalti dan pembagian keuntungan yang diperoleh
Indonesia melalui korporasi pertambangan asing, niscaya tidak akan dapat
membangun kembali lingkungan yang telah rusak total tersebut.
Nama Anggota :
Ø
Adelia Nursita Sari : 20216113
Ø
Muhammad Baharudin Alamsyah : 24216750
Ø
Shely Apriliana :
26216997
- KONDISI
PEREKONOMIAN INDONESIA PADA MASA PENJAJAHAN
A.Kajian Tentang Sistem
Perekonomian Indonesia di Masa Kolonial Belanda
Pertengahan dasawarsa tahun 1960-an terdapat beberapa arsip Belanda dan Indonesia yang berisikan tentang sistem administrasi pada masa pemerintahan Belanda yang terjadi pada abda ke-19 dan abad ke-20 yang dibuka untuk umum.Contohnya sistem tanam paksa yang menimpa para petani di Pulau Jawa saat itu, banyak sejarahwan yang berpendapat bahwa hal itu telah menjadikan petani di Jawa menjadi lebih miskin, padahal tidak demikian.
Pertengahan dasawarsa tahun 1960-an terdapat beberapa arsip Belanda dan Indonesia yang berisikan tentang sistem administrasi pada masa pemerintahan Belanda yang terjadi pada abda ke-19 dan abad ke-20 yang dibuka untuk umum.Contohnya sistem tanam paksa yang menimpa para petani di Pulau Jawa saat itu, banyak sejarahwan yang berpendapat bahwa hal itu telah menjadikan petani di Jawa menjadi lebih miskin, padahal tidak demikian.
- Sejarah
Sistem Perekonomian Indonesia di Masa Sistem Tanam Paksa
Menurut sejarah, sejarah perekonomian
Indonesia mencatat bahwa ditahun 1830 terjadi kebangkrutan yang dialami
oleh pemerintah penjajah akibat dari Perang Diponegoro tahun 1825 – 1930 yang
merupakan perang terbesar di tanah Jawa dan juga Perang Paderi tahun 1821 –
1837 di Sumatera Barat. Kemudian Jendral Van den Bosch selaku Gubernur saat itu
memperoleh izin untuk menerapkan Sistem Tanam Paksa atau yang disebut dengan
Cultuur Stelsel yang memiliki tujuan utama untuk menutupi defisit dari besarnya
anggaran pemerintah serta untuk mengumpulkan kembali kas pemerintahan yang
habis terpakai. Dengan memaksa para petani untuk bekerja hingga 4 kali lebih
lama dari jam kerja biasa dengan tujuan pokok agar kapasitas hasil pertanian
meningkat demi untuk meningkatkan kondisi ekonomi pemerintahan Belanda
saat itu.Memang dari hasil sistem Tanam Paksa ini berhasil meningkatkan
sejumlah komoditi pertanian hingga dapat dieskpor ke Eropa, sehingga semakin
tinggi penghasilan yang didapat oleh pemerintahan Belanda saat itu namun upah
yang diberikan kepada kaum petani tidak seimbang dibanding tenaga dan jerih
payah yang mereka keluarkan di masa sistem tanam paksa tersebut.
- KONDISI
PEREKONOMIAN INDONESIA PADA MASA ORDE LAMA
Sebagai orang yang pertama
memimpin Indonesia Soekarno adalah peletak dasar perekonomian
indonesia. Beberapa kebijakan yang diambil dibawah pemerintahan Soekarno
diantaranya :
- Nasionalisasi
Bank Java menjadi Bank Indonesia.
- Mengamankan
usaha-usaha yang menyangkut harkat hidup orang banyak
- Berusaha
memutuskan kontrol Belanda dalam bidang perdagangan ekspor-impor
- Serta
beberapa kebijakan lainya yang ditujukan untuk memajukan perekonomian
indonesia.
Setelah
kemerdekaan hingga tahun 1965, perekonomian Indonesia memasuki era yang sangat
sulit, karena bangsa Indonesia menghadapi gejolak sosial, politik dan keamanan
yang sangat dahsyat, sehingga pertumbuhan ekonomi kurang diperhatikan.
Kegiatan ekonomi masyarakat sangat minim, perusahaan-perusahaan besar saat itu merupakan perusahaan peninggalan penjajah yang mayoritas milik orang asing, dimana produk berorientasi pada ekspor. Kondisi stabilitas sosial- politik dan keamanan yang kurang stabil membuat perusahaan-perusahaan tersebut stagnan. Pada periode tahun 1950-an Indonesia menerapkan model guidance development dalam pengelolaan ekonomi, dengan pola dasar Growth with Distribution of Wealth di mana peran pemerintah pusat sangat dominan dalam mengatur pertumbuhan ekonomi (pembangunan semesta berencana).
Model ini tidak berhasil, karena begitu kompleknya permasalahan ekonomi, sosial, politik dan keamanan yang dihadapi pemerintah dan ingin diselesaikan secara bersama-sama dan simultan. Puncak kegagalan pembangunan ekonomi orde lama adalah terjadi hiper inflasi yang mencapai lebih 500% pada akhir tahun 1965. Orde Lama berlangsung dari tahun 1945 hingga 1968. Dalam jangka waktu tersebut, Indonesia bergantian menggunakan sistem ekonomi liberal dan sistem ekonomi komando.
Kegiatan ekonomi masyarakat sangat minim, perusahaan-perusahaan besar saat itu merupakan perusahaan peninggalan penjajah yang mayoritas milik orang asing, dimana produk berorientasi pada ekspor. Kondisi stabilitas sosial- politik dan keamanan yang kurang stabil membuat perusahaan-perusahaan tersebut stagnan. Pada periode tahun 1950-an Indonesia menerapkan model guidance development dalam pengelolaan ekonomi, dengan pola dasar Growth with Distribution of Wealth di mana peran pemerintah pusat sangat dominan dalam mengatur pertumbuhan ekonomi (pembangunan semesta berencana).
Model ini tidak berhasil, karena begitu kompleknya permasalahan ekonomi, sosial, politik dan keamanan yang dihadapi pemerintah dan ingin diselesaikan secara bersama-sama dan simultan. Puncak kegagalan pembangunan ekonomi orde lama adalah terjadi hiper inflasi yang mencapai lebih 500% pada akhir tahun 1965. Orde Lama berlangsung dari tahun 1945 hingga 1968. Dalam jangka waktu tersebut, Indonesia bergantian menggunakan sistem ekonomi liberal dan sistem ekonomi komando.
Perekonomian Pada Masa Orde Lama 1945-1966
- Pada
awal kemerdekaan, pembangunan ekonomi Indonesia mengarah perubahan
struktur ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional, yang bertujuan untuk
memajukan industri kecil untuk memproduksi barang pengganti impor yang
pada akhirnya diharapkan mengurangi tingkat ketergantungan terhadap luar
negeri.
- Sistem
moneter tentang perbankan khususnya bank sentral masih berjalan seperti
wajarnya. Hal ini dibuktikan dengan adanya hak ekslusif untuk mencetak
uang dan memegang tanggung jawab perbankan untuk memelihara stabilitas
nasional. Bank Indonesia mampu menjaga tingkat kebebasan dari pengambilan
keputusan politik.
- Sejak
tahun 1955, pembangunan ekonomi mulai meramba ke proyek-proyek besar. Hal
ini dikuatkan dengan keluarnya kebijakan Rencana Pembangunan Semesta
Delapan Tahun (1961). Kebijakan ini berisi rencana pendirian proyek-proyek
besar dan beberapa proyek kecil untuk mendukung proyek besar tersebut.
- Rencana
ini mencakup sektor-sektor penting dan menggunakan perhitungan modern.
Namun sayangnya Rencana Pembangunan Semesta Delapan Tahun ini tidak
berjalan atau dapat dikatakan gagal karena beberapa sebab seperti adanya
kekurangan devisa untuk menyuplai modal serta kurangnya tenaga ahli.
- Perekonomian
Indonesia pada masa ini mengalami penurunan atau memburuk.
- Terjadinya
pengeluaran besar-besaran yang bukan ditujukan untuk pembangunan dan
pertumbuhan ekonomi melainkan berupa pengeluaran militer untuk biaya
konfrontasi Irian Barat, Impor beras, proyek mercusuar, dan dana bebas
(dana revolusi) untuk membalas jasa teman-teman dekat dari rezim yang
berkuasa.
- Perekonomian
juga diperparah dengan terjadinya hiperinflasi yang mencapai 650%. Selain
itu Indonesia mulai dikucilkan dalam pergaulan internasional dan mulai
dekat dengan negara-negara komunis.
Masa Pasca Kemerdekaan (1945-1950)
Keadaan
ekonomi keuangan pada masa awal kemerdekaan amat buruk, antara lain disebabkan
oleh:
1. Inflasi
yang sangat tinggi, disebabkan karena beredarnya lebih dari satu mata uang
secara tidak terkendali. Pada waktu itu, untuk sementara waktu pemerintah RI
menyatakan tiga mata uang yang berlaku di wilayah RI, yaitu mata uang De
Javasche Bank, mata uang pemerintah Hindia Belanda, dan mata uang pendudukan
Jepang Kemudian pada tanggal 6 Maret 1946, Panglima AFNEI (Allied Forces for
Netherlands East Indies/pasukan sekutu) mengumumkan berlakunya uang NICA di
daerah-daerah yang dikuasai sekutu. Pada bulan Oktober 1946, pemerintah RI juga
mengeluarkan uang kertas baru, yaitu ORI (Oeang Republik Indonesia) sebagai pengganti
uang Jepang. Berdasarkan teori moneter, banyaknya jumlah uang yang beredar
mempengaruhi kenaikan tingkat harga.
2. Adanya
blokade ekonomi oleh Belanda sejak bulan November 1945 untuk menutup pintu
perdagangan luar negri RI.
3. Kas
negara kosong.
4. Eksploitasi
besar-besaran di masa penjajahan.
Usaha-usaha
yang dilakukan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan ekonomi, antara lain :
a. Program
Pinjaman Nasional dilaksanakan oleh menteri keuangan Ir. Surachman dengan
persetujuan BP-KNIP, dilakukan pada bulan Juli 1946.
b. Upaya
menembus blokade dengan diplomasi beras ke India, mangadakan kontak dengan
perusahaan swasta Amerika, dan menembus blokade Belanda di Sumatera dengan
tujuan ke Singapura dan Malaysia.
c. Konferensi
Ekonomi Februari 1946 dengan tujuan untuk memperoleh kesepakatan yang bulat
dalam menanggulangi masalah-masalah ekonomi yang mendesak, yaitu : masalah
produksi dan distribusi makanan, masalah sandang, serta status dan administrasi
perkebunan-perkebunan.
d. Pembentukan
Planning Board (Badan Perancang Ekonomi) 19 Januari 1947.
e. Rekonstruksi
dan Rasionalisasi Angkatan Perang (Rera) 1948 untuk mengalihkan tenaga bekas
angkatan perang ke bidang-bidang produktif.
f. Kasimo
Plan yang intinya mengenai usaha swasembada pangan dengan beberapa petunjuk
pelaksanaan yang praktis.
Dengan
swasembada pangan, diharapkan perekonomian akan membaik (Mazhab Fisiokrat :
sektor pertanian merupakan sumber kekayaan).
Masa Demokrasi Liberal (1950-1957)
- Masa
ini disebut masa liberal, karena dalam politik maupun sistem ekonominya
menggunakan prinsip-prinsip liberal.
- Perekonomian
diserahkan pada pasar sesuai teori-teori mazhab klasik yang menyatakan
laissez faire laissez passer.Padahal pengusaha pribumi masih lemah dan
belum bisa bersaing dengan pengusaha nonpribumi, terutama pengusaha Cina.
Pada
akhirnya sistem ini hanya memperburuk kondisi perekonomian Indonesia yang baru
merdeka
Usaha-usaha
yang dilakukan untuk mengatasi masalah ekonomi, antara lain :
- Gunting
Syarifuddin, yaitu pemotongan nilai uang (sanering) 20 Maret 1950, untuk
mengurangi jumlah uang yang beredar agar tingkat harga turun.
- Nasionalisasi
De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia pada 15 Desember 1951 lewat UU
no.24 th 1951 dengan fungsi sebagai bank sentral dan bank sirkulasi.
Program
Benteng (Kabinet Natsir), yaitu upaya menumbuhkan wiraswastawan pribumi dan
mendorong importir nasional agar bisa bersaing dengan perusahaan impor asing
dengan membatasi impor barang tertentu dan memberikan lisensi impornya hanya
pada importir pribumi serta memberikan kredit pada perusahaan-perusahaan
pribumi agar nantinya dapat berpartisipasi dalam perkembangan ekonomi nasional.
Namun usaha ini gagal, karena sifat pengusaha pribumi yang cenderung konsumtif
dan tak bisa bersaing dengan pengusaha non-pribumi.
- Sistem
ekonomi Ali-Baba (kabinet Ali Sastroamijoyo I) yang diprakarsai Mr Iskak
Cokrohadisuryo, yaitu penggalangan kerjasama antara pengusaha cina dan
pengusaha pribumi. Pengusaha non-pribumi diwajibkan memberikan
latihan-latihan pada pengusaha pribumi, dan pemerintah menyediakan kredit
dan lisensi bagi usaha-usaha swasta nasional. Program ini tidak berjalan
dengan baik, karena pengusaha pribumi kurang berpengalaman, sehingga hanya
dijadikan alat untuk mendapatkan bantuan kredit dari pemerintah.
- Pembatalan
sepihak atas hasil-hasil KMB, termasuk pembubaran Uni Indonesia-Belanda.
Akibatnya banyak pengusaha Belanda yang menjual perusahaannya, akan tetapi
pengusaha-pengusaha pribumi belum bisa mengambil alih
perusahaan-perusahaan tersebut.
Masa Demokrasi Terpimpin (1959-1967)
- Sebagai
akibat dari dekrit presiden 5 Juli 1959, maka Indonesia menjalankan sistem
demokrasi terpimpin dan struktur ekonomi Indonesia menjurus pada sistem
etatisme (segala-galanya diatur oleh pemerintah).
- Dengan
sistem ini, diharapkan akan membawa pada kemakmuran bersama dan persamaan
dalam sosial, politik,dan ekonomi (Mazhab Sosialisme).
- Akan
tetapi, kebijakan-kebijakan ekonomi yang diambil pemerintah di masa ini
belum mampu memperbaiki keadaan ekonomi Indonesia.
Kebijakan-kebijakan
ekonomi yang diambil pemerintah di masa itu:
a. Devaluasi
yang diumumkan pada 25 Agustus 1959 menurunkan nilai uang sebagai berikut: Uang
kertas pecahan Rp 500 menjadi Rp 50, uang kertas pecahan Rp 1000 menjadi Rp
100, dan semua simpanan di bank yang melebihi 25.000 dibekukan.
b. Pembentukan
Deklarasi Ekonomi (Dekon) untuk mencapai tahap ekonomi sosialis Indonesia
dengan cara terpimpin. Dalam pelaksanaannya justru mengakibatkan stagnasi bagi
perekonomian Indonesia. Bahkan pada 1961-1962 harga barang-barang naik 400%.
c. Devaluasi
yang dilakukan pada 13 Desember 1965 menjadikan uang senilai Rp 1000 menjadi Rp
1. Sehingga uang rupiah baru mestinya dihargai 1000 kali lipat uang rupiah
lama, tapi di masyarakat uang rupiah baru hanya dihargai 10 kali lipat lebih
tinggi. Maka tindakan pemerintah untuk menekan angka inflasi ini malah
meningkatkan angka inflasi.
d. Kegagalan-kegagalan
dalam berbagai tindakan moneter itu diperparah karena pemerintah tidak
menghemat pengeluaran-pengeluarannya.
e. Pada
masa ini banyak proyek-proyek mercusuar yang dilaksanakan pemerintah, dan juga
sebagai akibat politik konfrontasi dengan Malaysia dan negara-negara Barat.
Sekali
lagi, ini juga salah satu konsekuensi dari pilihan menggunakan sistem demokrasi
terpimpin yang bisa diartikan bahwa Indonesia berkiblat ke Timur (sosialis)
baik dalam politik, ekonomi, maupun bidang-bidang lain.
Sitem Perekonomian
Selama
masa orde lama, berbagai sistem ekonomi telah mewarnai perekonomian Indonesia,
antara lain :
- Sistem
ekonomi Pancasila & Ekonomi Demokrasi
: Awal Berdirinya RI
- Liberalis
: Awal 1950an – 1957an
- Sistem
Etatisme
: Awal 1958an – orde baru
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Selama Orde Baru
Hingga Saat Ini
1. Kondisi
Ekonomi Indonesia pada Masa Orde baru (1966-1998)
Kesejahteraan rakyat telah menjadi korban dan
ambisi para petualan politik. Atas dasar kesadran tersebut, maka pada awal Orde
Baru Stabilisasi Ekonomi menjadi proritas utama.
a. Stabilisasi
Ekonomi
Pada permulaan Orde Baru, program
pemerintah berorientasi pada usaha penyelamatan ekonomi nasional terutama pada
usaha pengendalian tingkat inflasi, penyelamatan keuangan negara, dan
pengamanan kebutuhan pokok rakyat. Pelaksanaan pembangunan Orde Baru bertumpu
kepada program yang dikenal dengan sebutan “ Trilogi Pembangunan” yaitu sebagai
berikut :
a)
Pemerataan
pembangunan dan hasil-hasilnya menju kepada terciptanya keadilan social bagi
seluruh rakyat Indonesia.
b)
Pertumbuhan
ekonomi yang cukup tinggi.
c)
Stabilitas
yang sehat dan dinamis.
Pelaksanaan Pola Umum Pembangunan
jangka panjang (25-30 tahun) dilakukan Orde Baru secara periodic 5 tahunan yang
disebut Pelita (Pembangunan Lima Tahun).
·
Pelita I
(1969-1974), sasaran yang hendak dicapai adalah tersedianya pangan, sandang,
papan, perluasan lapangan kerja, dan kesejahteraan rohani. Pelita 1 menekankan
pembangunan di bidang pertanian.
·
Pelita II
(1974-1979), sasaran yang hendak dicapai adalah tersedianya pangan, sandang,
papan, perluasan lapangan kerja, dan kesejahteraan rakyat.
·
Pelita
III (1979-1984), sasaran yang hendak dicapai adalah Trilogi Pembangunan.
·
Pelita IV
(1984-1989), sasaran yang hendak dicapai adalah di bidang pertanian tercapainya
swasembada pangan.
·
Pelita V
(1989-1994), sasaran yang hendak dicapai adalah upaya peningktan semua segi
kehidupan bangsa.
·
Pelita VI
(1994-1998), Pemerintah menitikberatkan pembangunan ekonomi yang berkaitam
dengan industri dan pertanian, serta pembangunan dan peningkatan sumber daya
manusia sebagai pendukunggnya.
b. Dampak
Revolusi Hijau dan Indiustrialisasi
Berikut upaya yang dilakukan
Pemerintah Indonesia untuk menggalakkan revolusi hijau antara lain :
a) Intensifikasi
Pertanian.
b) Ekstensifikasi
Pertanian.
c) Diversifikasi
Pertanian.
d) Rehabilitasi
Pertanian.
Berikut dampak positif revolusi
hijau antara lain :
a) Memberikan
lapangan kerja bagi para petani maupun buruh tani.
b) Kekurangan
bahan pangan dapat teratasi.
c) Sektor
pertanian mampu menjadi pilar penyangga Perekonomian Indonesia.
c. Dampak
Kebijakan Ekonomi Orde Baru
Dampak Positif :
1)
Pertumbuhan
ekonomi yang tinggi.
2)
Swasembada
beras.
3)
Penurunan angka kemiskinan
2. Akhir
Orde Baru
Krisis moneter yang melanda
kawasan asia Tenggara menyebabkan ketidakstabilan Perekonomian Indonesia sejak
pertengahan Juli 1997.
3. Era
Reformasi
Reformasi merupakan suatu
perubahan tatanan perikehidupan lama dengan tatanan perikehidupan yang baru dan
secara hukum menuju kearah perbaikan. Reformasi tahun 1998 menuntut adanya
pembaharuan dalam bidang politik, sosial, ekonomi, dan hokum Masalah yang mendesak
adalah upaya mengatasi kebutuhan pokok (sembako) dengan harga yang terjangkau
masyarakat.
a. Masa
Kepemimpinan B. J. Habibie (21 Mei 1998 – 20 Oktober 1999)
Pada saat pemerintahan presiden
B.J Habibie yang mengawali masa reformasi belum melakukan perubahan-perubahan
yang cukup berarti di bidang ekonomi. B. J. Habibie diangkat menjadi presiden
menggantikan Soeharto pada tanggal 21 Mei 1998. Tugasnya adalah Melanjutkan
kebijakan yang telah dibuat oleh sebelumnya,
kemudian Habibie membentuk kabinet yang diberi nama Kabinet Reformasi
Pembangunan. Berikut upaya-upaya yang dilakukan Habibie di bidang ekonomi
antara lain :
1) Merekapitulasi
perbankan.
2) Merekonstruksi
Perekonomian Indonesia.
3) Melikuidasi
beberapa bank bermasalah.
4) Menaikkan
nilai tukar rupiah terhadap dollar hingga di bawah Rp. 10.000
5) Mengimplementasikan
Reformasi ekonomi yang diisyaratkan oleh IMF.
Presiden B.J Habibie jatuh dari
pemerintahannya karena melepaskan wilayah Timor-timor dari Wilayah Indonesia.
b. Masa
Kepemimpinan Abdurrahman Wahid (21 Mei 1998 – 20 Oktober 1999)
Pada masa kepemimpinan presiden
Abdurrahman Wahid pun belum ada tindakan yang cukup berati untuk menyelamatkan
Indonesia dari keterpurukan. Kepemimpinan Abdurraman Wahid berakhir karena
pemerintahannya mengahadapi masalah-masalah yang kontroversial.
c. Masa
Kepemimpinan Megawati Soekarno Putri (23 Juli 2001-20 Oktober 2004)
Masa kepemimpinan Megawati
mengalami masalah-masalah yang mendesak yang harus diselesaikan yaitu pemulihan
ekonomi dan penegakan hokum. Kebijakan-kebijakan yang ditempuh untuk mengatasai
persoalan-persoalan ekonomi antara lain :
1) Melakukan
pembayaran utang luar negeri.
2) Memelihara
dan memantapkan stabilitas Negara.
3) Memantapkan
ekonomi nasional.
4) Privatisasi
BUMN.
5) Memperbaiki
kinerja ekspor.
d. Masa
Kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (20 Oktober 2004-2014)
Berikut kondisi dan
kebijakan-kebijakan masa kepemimpinan SBY di bidang ekonomi antara lain :
1)
Hingga
Maret 2005 utang luar negeri U$$136.6 miliar dan masa penundaan utang paris
club 3 sudah habis.
2)
Seratus
hari pertama lebih banyak bicara ekonomi makro dari pada secara spesifik
program peningkatan ekspor.
3)
Pada
tanggal 19 Desember 2004 SBY menaikkan haraga “BBM Mewah”.
4)
Melanjutkan
pertumbuhan ekonomi Megawati, diperkirakan pertumbuhan ekonomi nya naik hingga
4,4-4,9% dan inflasi meningkat yakni 5,5%.
5)
Menaikkan
pendapat perkapita dengan mengandalkan pembangunan infrasruktur missal dengan
mendorong pertumbuhan ekonomi serta mengundang investor dengan janji akan
memperbaiki iklim investasi.
e. Perkembangan
Ekonomi di Tahun 2015
Awal tahun 2015 menjadi momentum
tepat untuk memprediksi kondisi perekonomian Indonesia kedepan. Sebagai salah
satu negara yang baru saja mengalami perombakan politik, serangkaian kebijakan
baru tentunya akan mempengaruhi proyeksi ekonominya. Meskipun laju perekonomian
di tahun lalu mengalami perlambatan, namun sejumlah ahli dan ekonom justru
memprediksi bahwa di tahun 2015 perekonomian Indonesia akan mengalami
peningkatan. Bagaimana hal ini dapat terjadi? Bahkan ditengah kondisi ekonomi
internasional yang terbilang pesimis dalam beberapa tahun terakhir? Berikut ini
sejumlah data yang dikumpulkan dari data-data Bank Indonesia dan sejumlah
kalangan mengenai perkembangan ekonomi di tahun 2015.
Pada pertengahan Januari lalu, Bank Indonesia menetapkan untuk mempertahankan
BI Rate sebesar 7,75%, dengan suku bunga Lending Facility dan suku bunga
Deposit Facility masing-masing tetap pada level 8,00% dan 5,75%. Kemudikan
dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap perkembangan ekonomi Indonesia di 2014
dan prospek ekonomi 2015 dan 2016 yang menunjukkan bahwa kebijakan tersebut
masih konsisten dengan upaya untuk mengarahkan inflasi menuju ke sasaran 4±1%
pada 2015 dan 2016, dan mendukung pengendalian defisit transaksi berjalan ke
tingkat yang lebih sehat.
Mengacu pada evaluasi terhadap
perekonomian di tahun lalu, di tahun ini Bank Indonesia memperkirakan
perekonomian Indonesia semakin baik, dengan pertumbuhan ekonomi yang
lebih tinggi dan stabilitas makroekonomi yang tetap terjaga, ditopang oleh
perbaikan ekonomi global dan semakin kuatnya reformasi struktural dalam
memperkuat fundamental ekonomi nasional.
Perekonomian Indonesia tahun 2014
diprakirakan tumbuh sebesar 5,1%, melambat dibandingkan dengan 5,8% pada tahun
sebelumnya. Dari sisi eksternal, perlambatan tersebut terutama dipengaruhi oleh
ekspor yang menurun akibat turunnya permintaan dan harga komoditas global,
serta adanya kebijakan pembatasan ekspor mineral mentah. Meskipun ekspor secara
keseluruhan menurun, ekspor manufaktur cenderung membaik sejalan dengan
berlanjutnya pemulihan AS. Dari sisi permintaan domestik, perlambatan tersebut
didorong oleh terbatasnya konsumsi pemerintah seiring dengan program
penghematan anggaran.
Sementara itu, kegiatan investasi juga masih tumbuh
terbatas. Kinerja pertumbuhan ekonomi yang masih cukup tinggi terutama ditopang
oleh konsumsi rumah tangga yang tetap solid. Pada tahun 2015, pertumbuhan
ekonomi diperkirakan akan lebih tinggi, yaitu tumbuh pada kisaran 5,4-5,8%.
Berbeda dengan 2014, di samping tetap kuatnya konsumsi rumah tangga, tingginya
pertumbuhan ekonomi di 2015 juga akan didukung oleh ekspansi konsumsi dan
investasi pemerintah sejalan dengan peningkatan kapasitas fiskal untuk
mendukung kegiatan ekonomi produktif, termasuk pembangunan infrastruktur.
Reference:
Nama Anggota :
Ø
Adelia Nursita Sari : 20216113
Ø
Muhammad Baharudin Alamsyah : 24216750
Ø
Shely Apriliana :
26216997












